Setelah 2tahun pandemi, akhirnya masuk juga covid ke tubuhku ini. Rasanya campur-campur. Jujur sih gak panik, tapi gatau ya kalau aku dapat tahun lalu, pasti paniknya setengah mati. Scara waktu varian delta, ganas dan infrastrukturnya kacau balau. Ambulance lalu lalang dari pagi sampai pagi lagi, yang meninggal banyak sekali. Ada teman dekatku yang wafat karena delta dan banyak orang yang kehilangan keluarga dan orang terkasih. Tahun itu pula vaksin belum seperti sekarang. Juni - Agustus 2021 adalah bulan terhoror sepanjang saya hidup. hufftt
Selang beberapa bulan kita semua tenang dari badai delta. Muncul lah gelombang omicron ini. Akhir Desember-Awal Januari 2022 ditemukan varian baru ini. Lonjakannya juga dasyat, 3x lipat lebih cepat daripada Delta, tetapi tingkat kematiannya cenderung kecil. Beberapa pasien yang parah itu karena : Belum vakin, Vaksin tidak lengkap, Usia sudah tua dan Ada penyakit bawaan. Tetapi justru anak-anak banyak yang kena (dibandingkan delta). Aku juga kurang paham sih, tapi omicron ini disebut juga cluster keluarga. Saking mudahnya tertular, cepat dan lama bertahan di udara atau benda mati lainnya (ini yg aku dengar dari jubir covid dan kepala penanganan covid nasional serta menkes)
Aku pernah ngobrol dengan pak rio yangintinya "ini fix sih udah kayak flue aja, sampai sekarang flue itu mematikan apalagi di negara empat musim, setiap tahun selalu cari vaksin, vitamin D atau apapun deh, apalagi masuk musim dingin. di Indonesia aja nih flue masih kayak penyakit paling cetek. Obatnya paracetamol, tolak angin dan bobo. Lama-lama ya covid kayak gtu juga, vaksin wajib dengan segara jenis varian. Kita tinggal tunggu waktunya aja sih ini, dan kalaupun kita kena, aku gamau kondisi kayak sekarang (waktu delta), kacau banget dan pemerintah gak siap"
Omonganku itu ternyata beberapa menjadi kenyataan.
Tanggal 12 Febaruari 2022, melalui hasil test SWAB PCR aku dinyatakan positif covid dan mungkin itu Omicron (jika dilihat dari gejala-gejalanya)
Kronologis:
Aku akan tarik ke belakang (seminggu belakang). Selama tanggal 31 Januari - 6Februari 2022 kegiatanku :
Senin - Selasa ke Serpong naik Mobil, Rabu :WFH, Kamis : Thamrin (balik naik Transjakarta), Jumat : WFH. Sabtu di rumah. Minggu ke gancit berniat ke counter xl prioritas (mau ganti paket langgananku). Selama di gancit hanya mengunjungi XL, ke AW beli minum (take away), ke toko roti beli roti (take away juga). Buka Masker hanya di AW saja ketika menyerumput minum sebentar. Lalu baliknya ke pertok Pondok Indah dulu beli sate, makan sebentar trus balik. Di Sini buka masker juga lama sih selama makan.
Senin, Tanggal 7 Februari : Aku WFH. Setelah dipikir-pikir, mulai gak enak nih tenggorokan. Tapi yaudah aja gak terlalu dihiraukan.
Selasa, Tanggal 8 Februari : WFO. Biasa aja di sini. Tenggorokan gatel tapi yaudah aja. Mulai batuk dikit. tapi gak banyak
Rabu, 9 Februari : WFH - kadang meriang dikit, minum troces, minum panadol malem-malem. --> ini masih mikir batuk biasa, gada demam sama sekali, Jadi gak kepikiran covid. Sempet sih mau antigen untuk memastikan. tapi mundur dulu. soalnya badan udah sehat-sehat lagi.
Kamis, 10 Februari : WFO Serpong, di sini ada batuk lagi, selama di kantor gak flue, cuma batuk dan biasa aja. Malemnya mulai gak enak nih, lidah mulai pahit, kepala pusing, tenggorokan mulai ga enak lagi, troces gak membantu juga ternyata. Minum panadol sampe gak bisa tidur, hidung meler banget, bersin-bersin gak berhenti
Jumat, 11 Februari ; WFH, pagi-pagi sehat lagi, gk berasa apa-apa. tenggorokan gak enak. Lalu di TV lagi membahas omicron dan tanda-tanda omicron. isinya :
"Gejala Omicron berbeda dengan delta, seperti : Batuk terus menerus, pilek, bersin-bersin, sakit kepala, dan demam. mungkin demam akan jarang. tetapi jika Anda merasakan sakit tenggorokan segera lakukan test, hal ini yang membedakan dengan varian lain" -- trus aku langsung "deg". Ini tanda-tanda yang gw rasakan kamis kemarin -akhirnya flashback ke beberapa hari sebelumnya, Kapan mulai sakit tenggorokan, pilek, batuk dan lain sebagainya"
Aku langsung ngomong ke pak rio bahwa aku harus test hari ini juga dan anterin. Jadi kalaupun aku positif, pak rio bisa langsung test. Argh aku kesel banget, udah feeling harus test dari rabu tapi "gak jadi" karena dikira bukan covid. hufft. sebel banget.
Jam 18.40 aku ke bumame dekat sini, Jam 19.00-an keluar hasilnya : dinyatakan Positif (reaktif). Jam 8an aku balik lagi ke bumame untuk test SwabPCR dan pak rio juga harus SWAB PCR. Mulai itu, aku misah tempat tidur, aku di kamar, pak rio di luar. Kami langsung pakai masker double.
Sabtu, 12 Februari 2022 jam 11.an pagi menjelasng siang hasilnya keluar. Aku Positif dan Pak Rio Negatif. Yak emang deh langsung isoman fix.
--
Pak rio gak bolehin aku ke wisma atlet, jadi di sini isoman bareng-bareng aja, dia ngurusin aku. Masakin dan ambilin makanan ke bawah (kalau mesen atau ada yang anter). Karena menurut kemenkes, walaupun pak rio negatif, dia kontak erat sama aku di sini, jadi dia juga isoman dan gak bisa kemana-mana, walaupun masih boleh turun ke bawah. Kami tinggal di Apartemen, jadi udah pasti ruangan terbatas dan sangat-sangat kontak erat, udah gak bisa lagi misah rumah atau ruangan, kecuali ya gini, aku di kamar dia di luat walaupun masih suka lalu lalang kayak ambil baju, atau aku keluar karena bosan di kamar, mandi dan cuci piring.
Ya begitulah. Akhirnya covid kena ke semua orang tinggal tunggu waktu saja dan berdoa bahwa disaat kena covid pun, keadaan di Indonesia sudah baik penanganannya. Sekarang Alhamdulillah lebih baik dan mudah. Termasuk dalam mendapatkan obat. Nanti aku share gimana cara mendapatkan obat dengan cepat.
Semoga sehat selalu semuanya.
#isomanday1


