Selama berberapa waktu saya mulai melenceng dari tujuan atau cara saya hidup. Salah satunya adalah fokus terhadap diri sendiri dan keluarga. Beberapa tahun ini, selalu melihat orang lain.
Apa yang dilakukan orang, apa yang dilakukan keluarga A, keluarga B, apalagi yang sudah memiliki anak. Foto keluarga, main dengan anak, wisata, tamasya, sepertinya hidup lengkap.
Sungguh toxic!
Bahkan ada satu masa "aku harus bisa lebih, harus lebih baik, harus ke sana juga, harus bikin mereka iri"
Ternyata sungguh capek sekali. Aku juga bingung kenapa kok malah suka kepikiran seperti itu, apakah itu hal lumrah atau wajar yang sempat singgah kehidupan pribadi orang? atau sebenernya itu adalah masalah dan tak semua orang merasakan hal seperti itu.
Sudah beberapa kali aku diingatkan lewat teman, maksudnya bukan mereka yang tiba-tiba mengirim pesan kepadaku lalu menulis "ingat dan fokus pada diri sendiri jangan melihat orang lain". Bukan, bukan seperti itu. Tetapi lebih ke melihat postingan mereka yang share ntah di tweetnya ataupun di feednya. Intinya adalah "perbaiki diri sendiri, fokus terhadap diri sendiri dan jangan ikut campur urusan orang lain atau jangan melihat orang lain"
Melihat beberapa tulisan itu, aku merasa tertampar. "Perasaan dulu aku adalah orang yang mudah sekali untuk bersyukur, mudah sekali mencari kegiatan, percaya diri dengan kegiatan, mengembangkan diri, mengikuti ini itu, kok sekarang jadi orang yang membandingkan dengan orang lain, tidak fokus sama diri sendiri, banyak yang dipikirkan, banyak yang ditakutkan, banyak yang diirikan, kok malah jadi menghambat potensi diri, kok gak berkembang dengan kemampuan diri - kemana sosok diri ini yang dulu? kemana dia?"
Kamis ini, aku seharian berfikir, dan berujung menangis sendiri. Sampai suamiku bertanya "kenapa? apa yang dipikirkan?" aku berusaha menahan air matapun akhirnya tak sanggup lagi, air mata ini tumpah dan cukup lama. Aku capek, aku lelah, aku gak fokus sama diri sendiri, aku menjadi seorang yang payah, yang ingin bahagia seperti kehidupan orang, ingin mengambil semuanya, ingin seperti mereka, tapi ternyata itu semu..
Suamiku berkata "kayaknya ini efek obat hormon" - tapi mungkin ini iya dan enggak. Aku memang semakin melankolis dan cepat nangis. Mungkin juga akumulasi dari masalahku sebelumnya, dan ditambah dengan obat hormon ini. Plus melihat kegiatan orang yang sepertinya seru dan bermacam-macam, aku hanya diam di kasur dan tak kemana-mana. Otak tumpul dan tak berkembang, merasa di kantorpun tak ada gunanya. Semua ketakutan itu menyelimuti diri ini.
Lalu bagaimana aku harus menghilangkan rasa seperti ini. Berdoa kepada Tuhan? aku ingin sekali, tetapi sedang tidak bisa melakukan ibadah, walaupun setiap saat bisa berdzikir dan berdoa, tetapi rasanya berbeda ketika berkeluh kesah setelah beribadah. Bulan ini bernar-benar menguras energi untukku sampai aku harus overthinking dam tidak fokus lagi terhadap diri sendiri.
Aku belum tau harus ngapain. Sepertinya Aku tak mau juga menyalahkan kondisi sekarang. Aku sedang berusaha untuk tidak menengok orang lain atau kehidupan keluarga lain seperti apa. Sedang mencari cara untuk membuat bahagia sendiri - walaupun pada saat nulis ini aku belum tau apa. Karena aku masih terbatas untuk melakukan gerak atau kegiatan yang rutin aku lakukan sebelumnya (sepedaan).
Tapi coba dulu lakukan hal positif, atau lebih baik berfikir positif dan tidak membuka-buka sosial media seperti instagram untuk bisa fokus kepada diri? Belum tau..
mohon doanya ya teman-teman.

makes me happy[/caption]
with all participant, phot by iyutdewi[/caption]





bully ayu ting-ting[/caption]
instgram syahrini[/caption]


