"Ar pernah gak kamu berpikir kalau saja kita bertemu 13 tahun yang lalu, disaat kamu masih abege akupun juga.. Jadi kita tak perlu seperti ini." Kay memulai percakapan mereka di siang hari itu.
"Kay, aku selalu memikirkan itu" Ar membalas
"Ar, kenapa ya kita dipertemukan dengan cara seperti ini. Ar.. bersamamu sekarang aku merasakan kebahagiaan dan kesedihan disaat yang bersamaan.
"Ar. kenapa kita harus tetap seperti ini? Ar, aku bahagia bertemu dengan mu, aku sedih juga bertemu dengan mu. Ar aku ingin mendampingimu dari kamu masih sekolah hingga sekarang. Ar aku ingin aku yang menjadi bagian setiap moment hidup kamu. Aku mau jadi bagian itu Ar.
"Kay.. lihat aku.. Hey Kay.. lihat mataku sini" Ar merespon seluruh ucapan kay dan memegang tangan kay.
"Kay, aku pun juga ingin seperti itu, kamu menjadi bagian disetiap perjalanan hidupku sampai tua kelak, Kay sama kamu itu bukan masalah kuantitas waktu, tapi kualitas kay. Kay, aku bahagia bertemu kamu walaupun baru sekarang, aku pun berharap bertemu kamu sejak 13 tahun atau 15 tahun lalu. Kay, lingkaran kita ternyata dekat kan? Harusnya aku bisa bertemu kamu sejak itu.. Aku ternyata punya hasil foto kamu belasan tahun lalu, dan bodohnya aku tidak mencari kamu. Aku hanya mengagumi kamu. Aku ternyata ada di satu tempat yang sama denganmu waktu itu, tapi aku tidak mencarimu. Kay.. Kalau tau kamu indah seperti ini, aku akan cari kamu sejak dulu Kay.
"Ar.. " Kay meresponn
"Ar. tapi realitasnya sekarang kita tak bisa bersama.. Ar kenyataannya aku tidak menema ni setiap perjalanan dan moment terpenting dari hidupmu, bukan aku Ar." tak terasa air mata kay pun jatuh
"Kay.. aku mau kamu, aku butuh kamu. Kay, sabar ya, aku gak bisa kasih janji apapun, tapi aku ingin kita tetap bersama, Kay perasaanku masih sama, aku sayang sama kamu, ku cinta kamu. Kay please... percaya sama aku ya..." Ar merespon kay sembari memeluknyaa..
"Kay.. aku tetap mau kamu sebagai kekasih ku.."
--
Jiwa dan raga takkan berdusta
Namun terkadang cinta
Terusik benci se-sa-at
Menghibur hati yang penuh marah
Entah mengapa berpisah
Saat mulai men-ja-lin
Bagai nyanyian surgawi
Takkan berdusta
Walau ketamakan merajai
Diri yang penuh emosi
Jauh di dasar hatiku
Tetap 'ku mau
Kau sebagai kasihku
Menghibur hati yang penuh marah
Entah mengapa…



