ikhtiar intens promil setelah 4 tahun menikah

by - August 11, 2020

Setelah mencoba dengan cara normal, sudah dateng ke 4 dokter yang berbeda dan berkali-kali (sebenarnya aku sudah datang ke 5 dokter, dan mulai program itu pada dokter yang ke-2), diberikan obat dan vitamin yang sama. Sudah HSG, sudah cek sperm pak suami. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk mencoba inseminasi.

Sebenarnya inseminasi ini sudah ditawarkan dari dokter ke-2 pada akhir tahun 2017 (dr. Haekal di RSIA Brawijaya), tetapi kami mencoba untuk normal - karena pada waktu ke sana usia pernikahan baru 1.5 tahun. Waktu ke dokter ke-3 Prof Tono (Agustus 2019) , sudah menawarkan inseminasi, tetapi prof tono bilang "kita coba sekali dulu ya obatnya utk program normal, setelah ini baru kita tindak. tapi Ibu harus cek HSG dulu ya. Bapak juga klo bisa cek sperm, karena pcosnya bisa disembuhkan dengan olahraga dan makan yang bikin happy, jdi kita harus cek salurannya dan kondisi bapaknya juga". Karena lokasi dan susahnya menyesuaikan jadwal, akhirnya kami tak lanjut lagi ke prof Tono. Duh padahal ingin banget tuntas sama beliau, sungguh. Selain ktnya Prof Tono adalah dokter obgyn terbaik seBandungan, rumah sakit nya juga RSIA terbaik sebandungan, Biayanya periksanya setengah harga dokter di Jakarta (kebayangkan harga sekelas profesor dan RSIA terbaik di Bandung, bisa setengah harga kontrol dr. biasa aja di Jakarta). Tapi ongkos ke sananya itu loh yang bikin kami berdua berpikir ulang. Udah gitu, doi tuh kayak bapak gtu dan lucu. Emang sih klo kita gak nanya banyak, profnya juga gak banyak ngomong karena sih udah profesor dan pengalaman jadi liat2 langsung to the point ke masalah dan solusi.

Test HSG sudah saya lakukan, dengan rekomendasi Prof.Tono, akhirnya  kami mencoba untuk ke dr.yassin (yang mana kebetulan dr.yassin ini adalah kakaknya temen geng pak suami.. jadi pak suami sudah paham sepak terjang dr.yassin semenjak muda). Pertama ke sana itu Oktober 2019, Hasil HSG dibaca oleh dr. yassin, hasilnya baik. Saluran rahimnya aman-aman aja, kondisi rahimku juga baik-baik saja. ke dr.yassin yg dilihat sama saja, telur kecil-kecil, dikasih vitamin yang sama kyk waktu ke dokter Haekal dan Prof Tono. plus langsung meminta suami untuk test sperm.

Juni 2020 aku ke dr.yassin lagi, periksa lagi, dan membaca hasil test spermnya suami, Hasilnya Oligoterarozospermia ( adalah hasil dari analisa sperma yang menunjukan adanya jumlah sel sperma yang rendah, gerakan sel sperma yang lemah dan bentuk sel sperma yang tidak normal) - ya intinya ini deh. bentuknya gak sempurna, jadi untuk peluang hamil pun juga masih rendah sekali. Udahnya telurku kecil-kecil, sperm suami juga ada masalah sedikit... dr.yassin sendiri jg tipikal yg kita harus nanya banyak, sewaktu kontrol pertama ya hasilnya sama, dikasih vitamin yang sama, obat yang sama.. Waktu kontrol juni 2020 ini, suami dikasih vitamin tonikard untuk memperbaiki sperm. dr. Yassin langsung to the point "inseminasi ya Bu, sulit kayaknya kalau mau normal dengan kondisi seperti ini, tp terserah bapak dan ibu saja baiknya gimana, nanti tanya-tanya lagi aja dulu ke suster depan ya, dtg lg ke saya 3-5 hari pada saat ibu haid"

Seminggu kemudian kami datang lg ke dr.yassin dan periksa, USG transvaginal lagi dan kaget "kok ada kista ya. ini takutnya kista, tp kalau liat riwayatnya sih bukan kista, mungkin luruhan telur ya, bulan depan ke sini lg" dan langsung to the point "insem aja ya, nnti tanya2 ke suster di depan masalah biayanya seperti apa", kami berdua sebenernya ingin normal sih.. Nah pas di sini tuh mungkin ntah dokter yassinnya lg sibuk atau gimana, kesempatan untuk nanya2 tuh dikit, jawabannya juga to the point banget, iya dan enggak, gak seperti minggu lalu yang masih banyak ngobrol. Kayaknya sih emang udah diminta insem langsung, salah satunya masalah umur, ketuatan rahim dan yaa ntah lah..

Pulang pun kami berdua galau baiknya gimana. Kok ada kista, kok ini itu danlainnya.. Udah gitu ini adalah biaya kesehatan terakhir yang dibayarin kantor karena pak suami bulan ini adalah bulan terakhir kerja di Kantor. Jadi ya kami terpaksa juga harus cari rumah sakit yang masuk kantong gaji PNS. hahahahaha.. Jujur aja kemarin karena dibayarin kantor, jadi bener-bener cari RS yang sekalian mahal aja, aku ke dr.yassin di RSPI. Gak mikirin biaya kontrol yang penting adalah pelayanan terbaik. Kami muter otak dulu, dr.yassin sendiri buka praktek di bammed woman care yang lokasinya di Meruya, ini deket dari tempat kami. Mencoba telpon untuk booking, yaampun ya sebulan full. Ok artinya gak mungkin ke RSPI lagi ke dokter yassin dan sulit untuk memaksakan diri ke dr.yassin di bammed.

Aku menghubungi kk spupuku, dia program hamil sama prof budi wiweko, lokasinya di Kedoya, aku gatau kedoya sebelah mana.. yang jelas aku hanya kepikiran untuk kontrol yang uangnya masih masuk kantong PNS dan deket dari tempat tinggal kami. Akhirnya Bulan Juli kemarin, Aku coba cari dokter lain. Kalau kata temenku sih, selagi mau promil dan bahkan lagi hamil, ganti2 dokter mah gapapa, cobain dokter-dokter terbaik, kecuali memang ada kasus khusus yang dr tersebut nanganin. Akhirnya kami coba ke klinik dr.sanders (Daya Medika), kontrol dengan Prof Budi Wiweko. Saat ini aku gak banyak googling tentang beliau, aku hanya mendengar cerita spupuku yang akhirnya hamil.. program dengan beliau. 

Juli 2020 pun kami ke sana, membawa semua hasil test USG, hsg, sperm sebelum-sbelumny. Langsung ketemu Prof, seperti biasa periksa transvaginal, dilihat lagi ternyata bukan kista, itu hanya sel telur yang meluruh, lalu dicek telurnya besar, doi nanya sih "ini dikasih obat ya?", aku jawab iya.. dicek-cek lagi, dipahami lagi hasil test-test sebelumnya..

Prof banyak ngobrol-ngobrol saja, ditanya bagaimana hubungan seksual kami dari kuantitas dan waktu. Pada akhirnya dia nawarin "mau dipecahin gak telurnya, biar nanti malam atau besok kalau berhubungan bisa berhasil besar. dan bapak test sperm lagi ya, setelah minum vitamin kemarin kita lihat hasilnya ada perubahan atau tidak, karena kalau sperm bapak bisa diobatin" - jadi intinya kelainan spermnya pak suami itu tidak terlalu parah, makanya dokter yassin dan prof iko tidak terlalu khawatir. Pak suami hany diminta jaga kesehatan dan lanjut minum. 

Prof juga lebih banyak cerita bahwa doi juga praktek di RSPI, dan aku baru tau juga sewaktu bulan Juni 2020 kemarin kontrol, karena setelah aku keluar ruangan, profnya masuk.. Aku cerita juga kenapa pindah ke sini. Ya rezeki anak kan beda-beda, tapi aku type ingin yang terbaik dengan biaya yang masuk kantong. hihihi.

Setelah pulang dari sana, aku berpikir keras "kayaknya insem saja deh coba", suamiku pada saat itu masih berat, masalah biaya, masalah apakah kita udah pantas, tipe suamiku tuh tipe yang takut "belum ada persiapan dan nanti gimana biayain selama hamil", karena per juli 2020 kemarin, doi belum bekerja lagi hingga sekarang.. Segala upaya udah kami coba, dari Urut, minum teh, minum madu, minum obat, vitamin, minum rebusan jahe madu dll, olahraga (ini sangat-sangat membantu, terutama perihal siklus haid), ke dokter ini-itu dan semua nyebutnya sama semua, ke kang pijet sampe cirebon segala. Tetapi memang Belum ke akupuntur atau yg lainnya sih. Mungkin upaya kami belum maksimal seperti orang-orang lain, tapi kadang kami dan aku sendiri dalam kondiri capek lahir batin "kok gini ya.. harus maksimal gimana ya.."

Mamaku pun tiba-tiba ngabarin "nanti kalau kejual ruko di kampung, mama kasih uang ya buat ade berobat biar hamil", ntah kenapa hal inituh bikin aku semangat. Bener-bener semangat untuk mencoba step selanjutnya, untuk mencoba ikhtiar lain selain coba normal.

Aku berpikir bahwa ini adalah salah satu cara Allah untuk membuka jalan ikhtiar kami.. Akupun berpikir, aku ingin menata kerenggangan yang aku rasakan, iya ini menurut aku sendiri, beberapa tahun terakhir ini aku merasa kami lagi renggang aja, iya terlihat membaik dari luar, tapi seperti ada yang kurang. Kalau di rumah sibuk hp dan kegiatan masing-masing. Usaha intens ini menjadikan kami berdua bisa lebih baik lagi, Masalah kemarin 2 minggu menguras energi, dan dari kemarin pun menangis. 4 tahun belakangan ketika ada yang bertanya masalah anak, aku pun masih bisa tersenyum dan ketawa-ketawa santai, ada masanya down, ada banget. Tetapi tahun ini bener-bener gak kuat, minggu lalu hanya bisa nangis sampai sesegukan karena masalah ini (ya ditambah dengan masalah lainnya sih).

Sabtu kemarin pak suami sudah mencoba test sperm (sudah dengan syarat yang ddiminta), kami lalukan sebulan setelah kontrol terakhir, ini saran dokter "sebulan lagi ketemu saya ya tapi sudah test sperm", dan kebetulan juga ada rejeki untuk test. Hasilnya pun bisa dibaca segera. Hasilnya ada SAL dan HALO, aku gatau sih bedanya apa, tetapi kalau dari invoicenya itu, Hasil di daya medika ini lebih rinci daripada yang pertama di prodia. Harganyapun juga lebih mahal berkali-kali lipat. Prodia kalau tidak salah 300an atau 400 gtu, di Daya Medika ini 1.390.000, Secara fasilitas juga lebih bagus sih dibanding prodia. Disediakan kasur yang bersih, tv, dvd player dan cd nya, kamar mandinya pun bersih. Niat banget sih ini. hahahahaha..

Alhamdulillah hasilnya pun bisa langsung diterima tetapi yang SAL, yang HALO masih semingguan lagi. Tetapi kata sustersih SAL juga bisa dibaca.. Alhamdulillah yang tadinya Oligoterarozospermia, sekarang Normozoospermia - artinya Normal. Detailnya pun jauh lebih baik dari sebelumnya, Alhamdulillah sekali.

Hari ini kami mau ke dokter lagi, mau tau saran dokter seperti apa. Jika dokter menawarkan inseminasi, kami Insya Allah langsung mengiyakan tidak seperti kemarin-kemarin yang masih mikir-mikir "normal", Alhamdulillah rezeki datang darimana saja, Alhamdulillah juga hasilnya baik, ditingkatkan lagi yang sudah baik ini. Apapun hasilnya nanti, yang penting niat dan ikhtiar kami berdua. Bismillah.


#pejuang2garisbiru








You May Also Like

0 Comments