Beberapa bulan ini aku menyadari bahwasanya aku tak punya tabungan. iya tak adaa...
"kok udah kerja beberapa tahun tapi gak punya tabungan ya", emang sih dari awal kerja gak jelas, tapi tetap ajaharusnya bisa nabung, karena pendapatan bukan hanya dari gaji tetapi dari perjalanan dinas, rapat, bonus ini itu dan lain sebagainya, tapi kok dipikir-pikir tabungan 0 ya?
Flashback lagi, ternyata tabungan terpakai untuk keperluan nikah pada tahun 2016, lalu setelah 2016?? kamipun ternyata tak ada tabungan. 2018 saya bekerja, 2017 pun pak rio pindah kerjaan, dan ternyata sama saja, tak ada tabungan, kami berdua pun bingung. "kok bisa ya" udah 3 tahun menikah, 2 tahun kerja kok nihil, mau beli aset tak ada, mau invest pun tak ada, sepertinya ada yang salah dengan kami.
telisik-telisik, ternyata selama 3 tahun ini kami sangat amat boros. Beli apapun yang diinginkan bukan yang dibutuhkan. Apapun yang dipengen "beliiii", apapun yang memuaskan hawa nafsu, mengikuti trend, beli baju, barang-barang elektronik, printilan tidak jelas, yang setelah dibeli aku kadang berpikir "apakah ini dibutuhkan sekali?" dan ternyata jawabannya "tidak"
baju? "dulu hampir tiap bulan beli baju" sampai lemari pun super duper penuh dan tidak semua baju dipakai, ini juga pemborosan. setelah di review "loh ini kok banyak banget baju setipe", "duh ini gak pernah dipakai", "yg gak dipakai diapain ya", dan kebingungan-kebingunan lainnya, belum lagi ternyata Beli Hp, beli laptop, beli kamera, beli printer, beli instax, jajan makanan ini itu yang lucu-lucu, nongkrong di coffeeshop setiap weekend dan beli-beli yang lainnya. "pantesan kami ttp gini-gini aja", gajian hilang begitu saja, kayaknya gak boleh gini terus deh, walaupun kami belum ada kebutuhan untuk membeli rumah atau hunian lainnya bahkan mobil pun. tapi kalau gaya hidup seperti ini tidak baik untuk kami. Misalnya ketika ada kejadian apapun yang tidak diinginkan, kami pun tak ada cadangan apapun. Dan juga kami masih banyak menanggung orang tua, bayar-bayar listrik 3 rumah, bayar maintenance apartemen, rumah ciledug, rumah scincin, bayar kuburan, dan lain sebagainyaa..
Beberapa bulan ini kami menerapkan gaya hidup yang berbeda dari sebelumnya dan mulai untuk tidak membeli apa yang diinginkan tetapi dibutuhkan. Ternyata Alhamdulillah berdampak kepada banyak hal termasuk ke kesehatan. Yang kami lakukan sederhana sekali :
Efeknya memang belum terasa, karena kami masih mencoba dan pelan-pelan berusaha merubah kebiasaan yang sudah hampir 4 tahun ini kami lakukan (12x4 = 48 bulan x30 hari = 1440 kali), butuh waktu dan adaptasi untuk merubah kebiasaan ini. Waktu 2 bulan ini belum bisa dievaluasi, tetapi setidaknya kami mulai berasa untuk kesehatan karena kami masak sendiri dan memilih bahan makanan sendiri plus mengirit uang karena dulu kebiasaan beli-beli makanan, sekarang bisa disalurkan ketempat lain.
"kok udah kerja beberapa tahun tapi gak punya tabungan ya", emang sih dari awal kerja gak jelas, tapi tetap ajaharusnya bisa nabung, karena pendapatan bukan hanya dari gaji tetapi dari perjalanan dinas, rapat, bonus ini itu dan lain sebagainya, tapi kok dipikir-pikir tabungan 0 ya?
Flashback lagi, ternyata tabungan terpakai untuk keperluan nikah pada tahun 2016, lalu setelah 2016?? kamipun ternyata tak ada tabungan. 2018 saya bekerja, 2017 pun pak rio pindah kerjaan, dan ternyata sama saja, tak ada tabungan, kami berdua pun bingung. "kok bisa ya" udah 3 tahun menikah, 2 tahun kerja kok nihil, mau beli aset tak ada, mau invest pun tak ada, sepertinya ada yang salah dengan kami.
telisik-telisik, ternyata selama 3 tahun ini kami sangat amat boros. Beli apapun yang diinginkan bukan yang dibutuhkan. Apapun yang dipengen "beliiii", apapun yang memuaskan hawa nafsu, mengikuti trend, beli baju, barang-barang elektronik, printilan tidak jelas, yang setelah dibeli aku kadang berpikir "apakah ini dibutuhkan sekali?" dan ternyata jawabannya "tidak"
baju? "dulu hampir tiap bulan beli baju" sampai lemari pun super duper penuh dan tidak semua baju dipakai, ini juga pemborosan. setelah di review "loh ini kok banyak banget baju setipe", "duh ini gak pernah dipakai", "yg gak dipakai diapain ya", dan kebingungan-kebingunan lainnya, belum lagi ternyata Beli Hp, beli laptop, beli kamera, beli printer, beli instax, jajan makanan ini itu yang lucu-lucu, nongkrong di coffeeshop setiap weekend dan beli-beli yang lainnya. "pantesan kami ttp gini-gini aja", gajian hilang begitu saja, kayaknya gak boleh gini terus deh, walaupun kami belum ada kebutuhan untuk membeli rumah atau hunian lainnya bahkan mobil pun. tapi kalau gaya hidup seperti ini tidak baik untuk kami. Misalnya ketika ada kejadian apapun yang tidak diinginkan, kami pun tak ada cadangan apapun. Dan juga kami masih banyak menanggung orang tua, bayar-bayar listrik 3 rumah, bayar maintenance apartemen, rumah ciledug, rumah scincin, bayar kuburan, dan lain sebagainyaa..
Beberapa bulan ini kami menerapkan gaya hidup yang berbeda dari sebelumnya dan mulai untuk tidak membeli apa yang diinginkan tetapi dibutuhkan. Ternyata Alhamdulillah berdampak kepada banyak hal termasuk ke kesehatan. Yang kami lakukan sederhana sekali :
- Tidak banyak jajan, lebih banyak memasak, beli nasi dan bahan mentah untuk dimasak. Belinya pun mingguan, bukan bulanan agar tidak terbuang mubazir karena basi. Beli bahan-bahan di pasar
- Godaan terbesar adalah ketika jalan-jalan ke mall lalu ke Uniqlo, kalau sekarang? tetap ke Uniqlo tetapi ketika mau beli baju selalu dipikirkan "udah ada yg gini belum?", "kalau mau beli baru, harus ngeluarin 1 baju untuk dijual atau disumbangkan", "pilh baju yg disumbangkan dulu baru boleh beli", "udah ada baju yg rusak belum untuk penggantinya??" kalau gak ada, yah sekarang gak beli
- Stop beli sepatu, tas. Setahun kemarin ternyata aku membeli TAS dan SEPATU yang harganya lumayan banget dan jumlahnya juga cukup banyak dengan berbagai macam pembenaran.
- Ketika Beli alat elektronika, harus dipikirkan "balik modal", misalnya aku ini beli laptop, laptop ini harus menghasilkan sesuatu, beli kamera pun juga seperti itu, harus menghasilkan sesuatu ntah itu untuk usaha foto ataupun branding atau publikasi "nama".
- ketika ingin membeli barang, yg dipikirkan saat mau membeli adalah : "ini untuk berapa lama penggunaannnya? masih ada stok lama tidak? bisa ditunda gak? Diskon? Beli ini agar ikut tren, gaya hidup, pamer, konten, pamer atau emang butuh? setelah dipakai mau diapain barangnya?" - setidaknya ini yg aku pikirkan sebelum membeli barang
Efeknya memang belum terasa, karena kami masih mencoba dan pelan-pelan berusaha merubah kebiasaan yang sudah hampir 4 tahun ini kami lakukan (12x4 = 48 bulan x30 hari = 1440 kali), butuh waktu dan adaptasi untuk merubah kebiasaan ini. Waktu 2 bulan ini belum bisa dievaluasi, tetapi setidaknya kami mulai berasa untuk kesehatan karena kami masak sendiri dan memilih bahan makanan sendiri plus mengirit uang karena dulu kebiasaan beli-beli makanan, sekarang bisa disalurkan ketempat lain.
makes me happy[/caption]
with all participant, phot by iyutdewi[/caption]

